Realita Hidup di Luar Negeri (Korea Selatan dan Jepang) sebagai mahasiswa asing—Part 1

“Nothing is going to happen in your comfort zone”—Anonymous.

Tadaaaa…. Saya muncul lagi…. Akhirnya! 😀

Tanpa banyak basa-basi, langsung dimulai saja ya cerita tentang realita dan pengalaman tinggal di luar negeri sebagai mahasiswa asing versi saya (hehe).

Buat kalian yang belum tahu, saya pernah menempuh pendidikan S2 di Busan, Korea Selatan selama 2 tahun, dan setelahnya melanjutkan pendidikan S3 di Nagoya, Jepang selama 3 tahun. Jadi total waktu keseluruhan saya tinggal di LN untuk studi adalah 5 tahun (lumayan lamalah…) 😉

Selama tinggal di Korsel dan Jepang sebagai seorang mahasiswa, sebagian besar urusan administrasi biasanya dibantu oleh pihak kampus (Thank God). Benar-benar bersyukur untuk ini, karena urusan administrasi itu rumitnya… wow… minta ampun deh pokoknya. Apalagi di negara yang tidak berbahasa Inggris (bayangkan saja kalau kalian harus mengisi formulir dalam bahasa Jepang yang penuh dengan huruf Kanji, Hiragana dan Katakana tanpa tahu artinya!). Jadi memang bantuan dari pihak International office di kampus itu sangatlah dibutuhkan. Tapi… ada tapinya ya… tetap saja ada beberapa hal yang harus kita cari tahu sendiri dan juga harus diurus sendiri. Kalau waktu itu saya tidak rajin mencari informasi, mungkin saja saya akan ketinggalan berita penting yang akibatnya bisa fatal. Jadi intinya, salah satu syarat hidup di LN untuk studi itu harus sering-sering bergaul dan mencari informasi yang up to date tentang banyak hal.

Selama di Korsel, saya tinggal di asrama kampus yang sekamar dihuni oleh maksimum dua orang. Asrama kampus di Universitas saya di Korsel ini dipisahkan antara laki-laki dan perempuan ya… jadi tidak ada mix dorm gitu… kecuali untuk yang sudah berkeluarga dan memboyong keluarganya ke Korsel, pastinya disediakan kamar khusus oleh pihak kampus.

Anyway, dormitory (asrama) kampus yang saya tinggali dulu itu sangat elite. Lebih mirip hotel bintang tiga dibanding asrama. Ditiap kamar terdapat kamar mandi dalam dengan shower dan air panas, kulkas, tempat tidur yang nyaman, meja belajar dan rak buku yang besar, heater yang diinstal dilantai dan sangat hangat saat musim dingin, koneksi internet yang cepat, dan fasilitas lainnya, termasuk makan tiga kali sehari di kantin asrama. Asrama ini juga sangat besar (20-an lantai) dengan sistem keamanan yang canggih. Mau masuk asrama saja harus men-scan kartu kamar di pintu luar, lalu berjalan melewati security (yang cukup ketat), dan sekali lagi men-scan kartu untuk memasuki kamar tidur (seperti di hotel lah pokoknya).

SANYO DIGITAL CAMERA
Asrama kampus yang elite 🙂
SANYO DIGITAL CAMERA
Penampakan Gwanganli Bridge dilihat dari kamar asrama saat malam hari.
SANYO DIGITAL CAMERA
Suasana didalam kamar asrama.

Tahun pertama saya di dormitory, saya mendapatkan roommate seorang cewek bertubuh kurus asal Vietnam. Sewaktu sekamar dengan cewek asal Vietnam ini, saya sering jengkel karena dia malas bersih-bersih. Selalu saja harus saya ingatkan saat gilirannya membersihkan kamar mandi tiba. Tapi ya begitulah… namanya orang malas ya tetap aja pemalas… sudah diingatkan berkali-kalipun tetap aja dia masa bodoh dan tidak mau membersihkan kamar mandi. Grrrhhh…. Akhirnya sayalah yang hampir selalu membersihkan kamar mandi karena saya tidak tahan dengan kamar mandi yang kotor (Ugh!).

Parahnya lagi kalau dia menerima telepon dari kampung halamannya atau dari teman sesama orang Vietnam… woaaaa…. Ributnya itu loh! Seperti rantang ketemu rantang (x__x). Ampuuun… nggak tahan deh saya… apalagi kalau saat itu sedang serius mengerjakan tugas atau sedang belajar, langsung buyarlah konsentrasi dalam sekejap. Akhirnya ditahun kedua di asrama, saya meminta pihak manajemen asrama untuk memberikan saya roommate yang baru saja.

Di awal tahun kedua, saya sekamar dengan cewek asal China. Kehidupan saya diawal tahun kedua ini cukup tenang, terutama karena saya nyaris tidak pernah berkomunikasi dengan roommate saya yang baru ini. Alasannya? Roommate saya ini tidak bisa bicara bahasa Inggris sama sekali sodara-sodara! Hanya bisa bicara bahasa China dan Korea saja, sedangkan bahasa Korea saya patah-patah dan bahasa China saya NOL besar (hahaha). Tapi bisa dibilang, kita berdua cocok-cocok aja. Apalagi si cewek China ini cukup rajin membersihkan kamar mandi dan menjaga area yang dia tempati selalu bersih dan teratur.

Di semester akhir saya di kampus, saya dipasangkan oleh pihak asrama dengan seorang roommate asal Korsel. Cewek yang satu ini sangat baik, ramah, dan cukup lancar berbicara bahasa Inggris. Tapi memang karena kesibukan masing-masing (apalagi waktu itu saya sedang bergulat dengan thesis), kami berdua jarang bertemu di asrama hingga saat menjelang tengah malam.

Tapi meskipun roommate saya ini sangat ramah… (lagi-lagi ada tapinya)… cewek ini asal-asalan meletakkan barang-barangnya. Baju yang selesai dipakai cuma dilempar diatas meja belajar hingga menumpuk seperti gunung! Beneran! Parah! Pernah satu kali tumpukan pakaian diatas mejanya itu kelewat banyak sampai berjatuhan dari meja (X__X). Dan dia cuek aja tuh seperti tidak ada tumpukan baju kotor yang berteriak-teriak menunggu dicuci diatas mejanya. Parrraaaahhh…. Hahaha…

Tapi ya itulah… meskipun dulu bete dan kesannya iiiihhh jorok…. sekarang kalau diingat-ingat lagi rasanya kok lucu dan aneh… hihihi…

Oh ya… pernah suatu kali saat semester hampir berakhir, saya dan seorang teman Indonesia yang sejurusan mendapatkan kabar buruk dari Ms. Z—sekretaris/asisten Ketua Jurusan kami. Kata Ms. Z, dia terlambat mendaftarkan nama kami berdua untuk tetap tinggal di asrama elite ini selama periode summer break (kira-kira 2 bulan). Akibatnya, kami berdua HARUS keluar dari asrama di kampus baru yang nyaman ini dan pindah ke asrama lain di kampus lama yang jauh lebih kecil dan yang lokasinya jauuuuh di atas gunung (*ngelap-keringat-di-dahi*).

Akhirnya, selama hampir dua bulan itu saya bolak-balik antara kampus lama dan kampus baru (tempat gedung lab saya berada). Meski ribet, pokoknya dinikmati sajalah… Namanya juga merantau demi masa depan 😉 Ya sebenarnya kalau diingat-ingat nggak terlalu parah juga sih karena pihak kampus menyediakan bus gratis untuk menghubungkan kedua kampus itu. Bus ini tersedia setiap hari, dari pagi sampai malam, hanya saja di hari Sabtu dan Minggu frekuensinya memang lebih jarang. Perjalanannya juga cukup singkat, hanya ditempuh dengan waktu kurang dari setengah jam.

Selama di Korea ini saya jarang jalan-jalan… karena selain keuangan yang kurang memadai (maklum, dana beasiswa pas-pasan) plus tugas yang tak pernah habis, saya juga rada-rada bingung mau kemana gitu… secara saya ini sebenarnya bukan fans Korea… jadi waktu berangkat kesana juga buta-buta gitu. Tahunya cuma Seoul ama Busan aja! Hahaha. Tapi toh akhirnya saya sempat juga jalan-jalan mengelilingi sebagian besar kota Busan, juga Seoul. Bahkan sempat bermain seharian di Everland Theme Park bersama dua orang teman Indonesia sebelum maju sidang Thesis. Saya juga sempat menikmati indahnya bunga sakura yang bermekaran saat musim semi di Jinhae dan mengikuti tour gratis kampus ke beberapa tourism spots di luar kota Busan.

SANYO DIGITAL CAMERA
Gyeongbokgung Palace, Seoul.
SANYO DIGITAL CAMERA
Penjaga di depan Gyeongbokgung Palace, Seoul.
SANYO DIGITAL CAMERA
Everland Theme Park.
SANYO DIGITAL CAMERA
Menikmati Sakura di Jinhae.

Selain itu, di semester pertama kuliah saya sangat diberkati. Profesor saya (yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua Jurusan) baik banget… Beliau membiayai kami (empat orang mahasiswa—dua calon Master, dan dua calon Doktor), untuk mengikuti seminar Internasional di Jeju Island. Segala biaya ditanggung oleh Jurusan 🙂 Di tahun kedua perkuliahan, saya kembali dibiayai oleh jurusan untuk mengikuti seminar nasional bergengsi di Seoul. Puji Tuhan semuanya berjalan lancar 🙂

SANYO DIGITAL CAMERA
New Year’s eve in Busan.
SANYO DIGITAL CAMERA
Nampodong, Busan, menjelang Natal dan Tahun Baru.
SANYO DIGITAL CAMERA
Menonton pertunjukan Busan Fireworks Festival yang spektakuler.
SANYO DIGITAL CAMERA
Nampodong Tower, Busan.

Selama tinggal di Korsel saya juga suka dengan makanan disana (asal bukan makanan asrama yang hambar—hehehe). Meski awalnya nggak begitu sreg, tapi lama kelamaan saya jadi ketagihan makan Samgyetang, Kimbab, Cheese Ramyeon, Jajangmyeon, Tteokbokki… apalagi barbeque-nya, Samgyeopsal… WOW… uenaaaaakkk… pokoknya nambah terus sampai nyaris muntah! :p

Soal budaya di Korsel… sedikit banyak sudah sering diperlihatkan di drama-drama Korea yang nge-top itu. Di Korsel, senioritas itu penting dan sakral. Wajib hukumnya untuk menghormati orang yang lebih tua, meskipun hanya lebih tua sekian hari. Makanya ada sebutan Hyung atau Oppa (kakak laki-laki) dan Nuna atau Eonni (kakak perempuan), itu bukan sekedar basa-basi saja ya… artinya dalem loh 😉

Dan orang Korsel itu sangat sukaaaaaa minum (alkohol, maksudnya). Itu bagian dari tradisi mereka. Bahkan, berdasarkan pengalaman saya dulu, teman-teman cewek Korea malah lebih kuat minum dibanding yang cowok! Serius! Buat mereka, minum Soju, bir, atau Makgeolli itu sudah biasa. Jadi wajar saja, disetiap acara makan malam bersama anggota lab, Profesor pasti mentraktir kami makan Samgyeopsal dan minum bir plus Soju. Nggak perlu pakai adegan heran, karena itu hal yang biasa di Korsel sana (seperti di drama-drama Korea kan?).

SANYO DIGITAL CAMERA
Acara makan malam bersama Profesor dan labmates.

Satu lagi yang perlu digaris bawahi, orang Korea (baik cewek dan cowok, tua dan muda) terkadang tidak malu-malu untuk menjalani prosedur oplas dan mengumumkannya ke banyak orang. Mereka juga sering to the point dalam menilai penampilan fisik seseorang. Seperti misalnya, mata saya kan sipit, mereka dengan santainya bilang ke saya bahwa kelopak mata saya masih butuh ‘dipermak’. Oplas aja, katanya… supaya kelihatan lebih besar dan cantik. Aih aih… mereka nggak sadar aja kalau standar kecantikan saya dan mereka itu berbeda. Menurut saya, meskipun sipit, tapi mata saya eksotis kok… nggak perlulah dirubah-rubah. Dan eh beneran, saya dapet suami yang memuji-muji bentuk mata almond saya. Tuh kan… standar kecantikan tiap orang kan berbeda… 😀

Baca juga: Suka duka menjadi istri pria Jerman

Tapi selain dari itu, hal-hal lainnya seringkali berbeda jauh kok dengan kisah-kisah yang ada di drama Korea 😀 Jadi jangan kelamaan bermimpi yah, dunia nyata jauh lebih complicated loh :p

Finally, kalau ditanya, gimana kesan saya selama studi di Korsel? Jawaban saya, Capek! Hehehe. Beneran, capek banget karena tugas yang menumpuk dan untuk kasus saya saat itu, wajib (catat: WAJIB) stand by di lab dari jam 9 pagi hingga sore atau malam hari setiap hari kerja (Senin-Jumat). Dan parahnya, kadang hari Sabtu juga tetap nge-lab loh, meski hanya setengah hari, apalagi saat mendekati masa-masa ujian. Capek, capek, capeeeek. Begitulah kesan saya tentang studi di Korea. Maafkan kalau saya terlalu blak-blakan.

Wejangan dari saya untuk yang ngebet kuliah di Korea:

  1. Jangan kebanyakan nonton drama Korea, karena kenyataan tak seindah skenario drama.
  2. Siap mental dan fisik. Jangan ragu-ragu untuk bergadang hampir setiap malam bila ingin lulus tepat waktu. Sediakan juga cukup kopi untuk menemani malam-malam yang sunyi.
  3. Banyak bergaul, dan bukan hanya dengan sesama orang Indonesia.
  4. Hormati dan patuhi perkataan Profesor. Jangan ngeyel karena akan membuat masa depan di kampus menjadi suram.
  5. Nikmati setiap proses yang harus dijalani. Some days are going to be harder than others. But at the end, it will be worth it.

Oke… sekian cerita dari saya… kalau masih berminat, silakan lanjut ke Part 2 untuk membaca pengalaman saya tinggal di Jepang sebagai mahasiswa asing (sedang ditulis) 🙂

안녕! Annyeong!

SANYO DIGITAL CAMERA
Free hug… anyone? 😀

Baca juga: Tips Mencari Profesor (Supervisor) di Jepang 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s